Headlines News :

KABAR MEDAN

Film KMGP sudah tayang di bioskop

KETIKA MAS GAGAH PERGI THE MOVIE atau KMGP The Movie sudah tayang di bioskop sejak seminggu yang lalu. bagi yang belum nonton dan membaca bukunya, berikut sinopsis singkat dari fim tersebut.

Gita gadis periang yang tomboy, selalu bangga pada Mas Gagah, abang yang menurutnya nyaris sempurna. Gagah baik, tampan, cerdas dan modern. Sejak Papa meninggal, Gagah sembari kuliah, membantu Mama jadi tulang punggung keluarga.

Untuk penelitian skripsinya, Gagah pergi ke Ternate, tetapi setelah Gagah pulang dari Ternate, Gita terkejut karena abangnya itu berubah sama sekali!

Gagah sangat bersemangat menjalankan ajaran Islam, dan kerap menasihati Gita untuk menjalankan perintah-perintah agama. Gita sebal. Menurutnya Gagah fanatik dan norak. Ia pun mulai “memusuhi” Gagah, juga 'memusuhi' Kyai Ghufron, yang telah menginspirasi Mas Gagah-nya saat di Ternate.

Meski dimusuhi Gita, Gagah pantang menyerah. Ia terus berusaha mendekati Gita dan Mama, mengajak dua orang yang ia cintai itu untuk lebih mengenal Islam. “Islam itu indah. Islam itu cinta,” adalah hal yang selalu disampaikan Gagah pada Gita.

Sementara itu, Gita beberapa kali bertemu sosok misterius di jalan, tepatnya di bus, kereta api dan tempat-tempat lainnya. Sosok ini (Yudi) masih muda dan mengingatkannya pada Mas Gagah. Tanpa pamrih, sosok itu mengajak orang-orang pada kebaikan, mencerahkan dan menguatkan setiap orang yang ia temui, termasuk di area pemukiman warga yang terkena musibah dan selalu menjadi orang yang paling dulu membantu mereka yang membutuhkan.

Waktu berlalu, banyak hal terjadi. Gita terus memusuhi Gagah. Namun perlahan, ceramah-ceramah sederhana Yudi kian mengena. Keberadaan Tika sahabat Gita, serta Nadia (sepupu Tika) yang justru mengenakan jilbab saat kuliah di Amerika, kian menyadarkan Gita untuk berbaikan kembali dengan Gagah. Gita mulai mau mendengarkan Gagah dan jalan bareng lagi. Gita juga senang diajak Gagah ke “Rumah Cinta”, rumah singgah penuh buku yang pelan-pelan dibangun Gagah bersama teman-temannya untuk anak-anak dhuafa di pinggiran Jakarta. Di sana Gita menikmati persahabatan Gagah dengan Urip, Asep dan Maxi, mantan preman yang insyaf dan mengelola tempat tersebut.

Saat kembali dekat dengan Gagah, Gita memutuskan akan memberi kejutan manis pada abangnya tersebut di hari ulangtahun Gita yang ke 17. Namun sesuatu terjadi. Terlambatkah Gita?

Muhammad Hafez Pimpin Kembali PKS Sumut

Muhammad Hafez Lc. MA, ditetapkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumatera Utara periode 2015-2020. Ini menandakan Muhammad Hafez akan memimpin PKS Sumut kembali untuk periode 5 tahun kedepan.

SK DPP PKS terkait penetapan Muhammad Hafez sebagai ketua DPW dibacakan oleh Bendahara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS Mahfudz Abdurrahman, S. Sos, pada penutupan Musyawarah Wilayah (Muswil) 4 PKS Sumut, di Hotel Polonia Medan, Sabtu (10/10).

Selain Muhammad Hafez, juga diumumkan Azhar Arifin sebagai wakil ketua, H. Mahmud Soleh sebagai ketua bidang kaderisasi, Zul Murado sebagai sekretaris dan Ibnu Affan sebagai bendahara. Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Sumut Heriansyah, sekretaris Cecep Wiwaha. Ketua Dewan Syariah Wilayah (DSW) Muhammad Yusuf Fahmi dan sekretaris Abdul Malik Burhanuddin.


Mereka yang kemudian ditetapkan sebagai Dewan Pimpinan Tingkat Wilayah (DPTW) PKS Sumut, terdiri dari; 5 nama untuk DPW, 2 nama untuk MPW dan 2 nama untuk DSW.

Usai membacakan SK DPP PKS, Mahfudz juga memimpin DPTW terpilih mengikrarkan janji setia yang berbunyi; Taat dan patuh terhadap peratursn PKS dan Undang-undang Republik Indonesia. Mendengar dan taat kepada pimpinan PKS dalam rangka taat kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Menjunjung tinggi kebenaran, jujuran, cinta dan kasih sayang serta persaudaraan. Bekerja dengan penuh keikhlasan, bersungguh-sungguh, amanah, profesional, dan penuh tanggung jawab.

Selanjutnya Ketua DPW terpilih, Muhammad Hafez membacakan Pakta integritas dengan disaksikan oleh Mahfudz Abdurrahman dan Ketua Wilda Sumbagut DR. Hermanto.

Mahfudz Abdurrahman  dalam sambutannya menyampaikan salam dari Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman dan Ketua Majelis Syura PKS Dr. Salim Segaf Al Jufri. Berhubung ada Muswil di daerah lain karena akhir November harus selesai pemilihan DPTW.

“PKS mengalir seperti air dan berhembus seperti angin,” ujar Mahfudz. Begitu juga dalam pelaksanaan pergantian kepengurusan jauh dari kebisingan.

Mahfudz mengungkapkan, visi partai yang dirumuskan pada MUNAS ke IV PKS yang merupakan visi 2020 berbunyi, menjadi partai dakwah yang kokoh dalam berkhidmat untuk ummat, bangsa dan negara.“Dengan mengusung istilah partai dakwah kita menegaskan bahwa dakwah adalah panglima segala kegiatan dan perjuangan kita,” ungkapnya.

Menurutnya, PKS tidak ingin menjadi partai yang semata-mata mengejar kekuasan dan dengan kekuasaan itu meraih materi sebanyak-banyaknya atau demi meraih kepentingan sesaat dan duniawi. “Partai dakwah mencita-citakan tegaknya nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW, nilai luhur yang membawa manusia menjadi hamba Allah yang baik, nilai luhur yang membebaskan manusia dari belenggu materialisme, pragmatism dan hedonism,” ujar Mahfudz.

Acara ditutup dengan doa yang dibawakan oleh Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Sakira Zandi. Turut hadir dalam Muswil ke-4 PKS Sumut, H. Anshori Siregar anggota DPR RI dapil Sumut III yang juga Pengurus Wilayah Daerah Sumbagut, H. Iskan Qolba Lubis, MA Dapil Sumut II dan Nasir Djamil anggota DPR RI dapil Aceh. Selain itu ada perwakilan Partai Golkar, Persis dan Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut Zulfikar./sak/pkssumut

Gokil, Halaman Depan Koran Republika "Tertutup Asap"

Berita utama dengan judul "Harga Solar Turun" dan sejumlah berita lain di halaman depan menjadi sulit dibaca karena tertutup lapisan abu-abu. Di bawah halaman, satu baris kalimat menjelaskan, "saat tertutup asap, semua berita menjadi sulit dibaca." Langkah Republika terkait masalah kabut asap diapresiasi oleh pengguna media sosial. "Keren," kata satu pengguna Twitter. Lainnya mengatakan, "protes cerdas".

Namun ada juga yang mempertanyakan. "Jadi makin jelas keberpihakan media melalui framing mereka," kritik satu pengguna Facebook. Lainnya, mengatakan, "simpati dan dukungan memang baik dibarengi dengan tindakan lebih baik."

Bukan bentuk kritik

Pemimpin Redaksi Republika Nasihin Masha kepada BBC Indonesia mengatakan desain halaman depan itu bukan dimaksudkan untuk mengkritik atau memprotes pemerintah, tetapi untuk mengetuk hati semua orang.

"Dalam semua berita (Republika) tidak ada protes, kita hanya mengungkap fakta-fakta saja, karena protes itu tidak mempan juga dalam sistem politik kita selama bertahun-tahun ini," katanya.
"(Kami) Tidak bermaksud mengkritik ke pemerintah, tapi ke semua, karena kami berpendapat publik ambivalen juga dalam masalah kabut asap. Sudah jelas siapa pihak yang membakar hutan, tetapi kita tetap menerima secara sosial produk-produknya, ada kemunafikan pada diri kita."

Nasihin mengatakan surat kabarnya memilih untuk fokus pada pengungkapan fakta sosial terutama terkait kaum-kaum yang rentan terhadap asap karena melihat bahwa persoalan ini telah "bertahun-bertahun terjadi tanpa perubahan."

Lantas apakah ini menunjukan keberpihakan Republika terhadap masalah kabut asap? "Jelas, pers Indonesia sejarahnya panjang sekali selalu berpihak pada kepentingan publik," sambungnya.
Presiden Joko Widodo sudah meminta bantuan Singapura, Rusia, Malaysia, dan Jepang untuk membantu memadamkan api di hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap./bbc

Menghina Alquran, TAF di Pecat sebagai mahasiswa UINSU

Buat status menghina Islam dan seluruh ajarannya yang terkandung dalam Alquran dan melemparkan al Quran di depan mahasiswa baru saat OSPEK, TAF  dipecat dari kampusnya Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara pada Senin, 21 September 2015 kemarin.

Kejadian tersebut berawal dari status TAF di Akun Sosial Medianya, TAF menuliskan tentang Alquran yang disebutnya entitas firman tuhan yang sudah pingsan. TAF juga menyebutkan Alquran adalah dulunya makhluk hidup dizaman Rasul. Namun setelah kepergian Rasul, esentitasnya berubah menjadi makhluk tuhan yang serba pingsan.

Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara akhirnya memecat TAF, mahasiswa semester V Jurusan Ahwal Al Syakhshiyah Fakultas Syariah yang kerap menghina Rasulullah, Islam dan Al Qur’an.
Selain melecehkan Islam melalui tulisan, TAF juga melecehkan Al Qur’an di depan mahasiswa baru saat orientasi maba.
Pemecatan TAFa dibenarkan oleh Rektor UIN Sumut Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis.
“Benar, dia sudah kita pulangkan kepada orang tuanya. Itu dilakukan setelah melalui prosedur, baru kita keluarkan SK (pemecatan),” kata Nur Ahmad seperti dikutip Inilah.com, Kamis (24/9/2015).
Pemecatan TAF ditandatangani pada hari Senin tanggal 21 September 2015.
Selain melecehkan Islam melalui tulisan, TAF juga pernah melempar Al Qur’an ke lantai di hadapan mahasiswa baru.
Menurut Nur Ahmad, TAF dipecat karena dua poin. Yakni pelanggaran disiplin dan penistaan agama. Pelanggaran disiplin itu termasuk saat dia menjadi instruktur orientasi mahasiswa baru di UIN.
“Dia sebagai instruktur menggunakan hal-hal di luar itu. Seperti mencampakkan Al Qur’an ke tanah dan diambilnya kembali sambil mengeluarkan kalimat yang menjelekkan Al Qur’an,” Kata Nur Ahmad.
Tindakan TAF, lanjut Nur Ahmad, sudah diperingatkan oleh pihak rektorat. Sayangnya, Tuah Aulia kemudian membuka forum sendiri di media sosial yang dinilai mencemarkan nama baik UIN. /berbagaisumber

Pengacara Adnan Buyung Nasution Meninggal Dunia

Kabar duka datang dari ranah hukum. Pengacara senior Adnan Buyung Nasution meninggal dunia. Buyung selama beberapa hari ini memang menjalani perawatan di RS Pondok Indah, Jaksel.
Pengacara senior Adnan Buyung Nasution dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2015) pagi.

Kabar tersebut dibenarkan oleh putrinya, Pia Akbar Nasution saat dikonfirmasi mengenai kabar tersebut. "Iya benar meninggal pukul 10.15 WIB di RSPI," kata Akbar melalui telepon.
Menurut Pia, ayahnya meninggal lantaran penyakit yang didertitanya yakni komplikasi ."Siang ini dibawa ke rumah duka," ujar Pia menyampaikan.
"Keluarga ada di rumah sakit semua sekarang," terang seorang perempuan yang berada di rumah Buyung di Lebak Bulus, Jaksel.
Kabar Buyung meninggal dunia ini juga sudah ramai disampaikan media sosial. Di berbagai forum juga menyampaikan duka untuk pria berusia 81 tahun yang akrab disapa Bang Buyung ini. Selamat Jalan Bang Buyung.
 

Ayo Benahi Medan

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Detik Medan Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger